Catatan Materi Bahasa Indonesia

Catatan Materi Bahasa Indonesia

Kamis, 14 Januari 2010

Rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) Drama

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia
Satuan Pendidikan : SMA
Kelas / Semester : XII / II (Dua)
Alokasi waktu : 4 x 40 Menit 2x Pertemuan

A. Standar Kopetensi
Mendengarkan
13. Memahami pembacaan teks drama

B. Kopetensi dasar
13.1 Menemukan unsur-unsur intrinsik teks drama yang didengar melalui pembacaan
C. Tujuan pembelajaran
1. Setelah guru menjelaskan mengenai drama, siswa dapat memahami unsur intrinsik dalam naskah drama.
2. Setelah mendengarkan pembacaan naskah drama, siswa dapat menangkap dan mengetahui unsur intrinsik dalam naskah drama tersebut.
3. Siswa dapat mengungkapkan kembali unsur intrinsik drama dengan bahasa sendiri dan tepat.
D. Materi pokok.
Teks drama, Unsur-unsur intrinsik (tema, penokohan, latar, alur, amanat)

Langkah-langkah pembelajaran.
TAHAP KEGIATAN PEMBELAJARAN
PEMBUKA
(Apersepsi) o Guru memeriksa kesiapan siswa dalam menerima materi yang akan disampaikan kemudian mengabsensi siswa.
o Guru bertanya jawab dengan siswa tentang drama.
o Guru menyampaikan tujuan pembelajaran


INTI Pertemuan ke-1
o Guru memutar rekaman cuplikan sinetron remaja yang sedang populer.
o Guru menanyakan siapa saja siswa yang mengikuti cerita sinetron tersebut. Kepada siswa yang menonton, guru mengajukan sejumlah pertanyaan seputar isi ceritanya: siapa tokoh utama, karakternya, tema, amanat, latar cerita, dsb.
o Guru memberikan gambaran awal mengenai drama
o Guru menyatakan bahwa dalam cerita sinetron, film, drama, dan cerita fiksi lain selalu memiliki unsur intrinsik dan ekstrinsik.
o Guru menjelaskan secara lengkap unsur intrinsik drama.
Pertemuan ke-2
o Siswa menyimak pembacaan teks drama yang dilakukan oleh siswa yang ditunjuk oleh Guru.
o Siswa menjawab pertanyaan-pertanyaan pemahaman isi cerita drama yang disampaikan secara lisan oleh Guru.
o Siswa saling menukarkan pekerjaan /jawabannya untuk diperiksa secara silang di bawah bimbingan Guru.
PENUTUP
(Internalisasi dan refleksi)
o Siswa menjawab soal-soal Kuis Uji Teori untuk mereview konsep-konsep penting yang telah dipelajari
o Siswa diajak merefleksikan nilai-nilai serta kecakapan hidup (live skill) yang bisa dipetik dari pembelajaran
o Guru menyampaikan tugas mandiri untuk menyaksikan suatu cerita sintron/drama di radio atau televisi dan mengungkap unsur-unsur intrinsiknya.



Indikator
1. Menemukan unsur-unsur intrinsik teks drama yang didengar melalui pembacaan
2. Mendiskusikan unsur intrinsik teks drama yang didengar

Penilaian
Teknik dan Bentuk


15 % Tes Lisan
15 % Tes Tertulis
25 % Observasi Kinerja/Demontrasi
25 % Tagihan Hasil Karya/Produk: tugas, projek, portofolio
10 % Pengukuran Sikap
10 % Penilaian diri

Instrumen / soal Tugas untuk mendengarkan pembacaan teks drama
Tugas untuk menganalisis dan mengidentifikasi unsur-unsur intrinsik cerita drama
Daftar pertanyaan Kuis Uji Teori untuk mengukur pemahaman siswa atau konsep-konsep yang telah dipelajari





Mengetahui, , 2010
Kepala SMAN Guru Mata Pelajaran




……………………….. Saeful Ma’ruf, S.Pd.












RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia
Satuan Pendidikan : SMA
Kelas / Semester : XII / II (Dua)
Alokasi waktu : 6 x 40 Menit 3x Pertemuan

A. Standar Kopetensi
Mendengarkan
13. Memahami pembacaan teks drama

B. Kopetensi dasar
13.2 Menyimpulkan isi drama melalui pembacaan teks drama

C. Tujuan pembelajaran
• Setelah guru menjelaskan mengenai drama, siswa dapat memahami unsur intrinsik dalam naskah drama.
• Setelah membaca naskah drama yang ditugaskan oleh guru, siswa dapat menangkap dan mengetahui unsur intrinsik dalam naskah drama tersebut.
• Siswa dapat menyimpulkan isi naskah drama sesuai dengan ko teks.

D. Materi pokok.
Teks Drama
• Simpulan isi drama






Langkah-langkah pembelajaran
TAHAP KEGIATAN PEMBELAJARAN
PEMBUKA
(Apersepsi) Guru bertanya jawab dengan siswa mengenai unsur intrinsik dalam naskah drama yang telah dipelajari pada pertemuan yang lalu
Guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan mengaitkan dengan pengalaman siswa.
Guru mengkondisikan siswa untuk belajar dan bekerja kelompok.
Pertemuan ke-1
Siswa membentuk kelompok dan membaca teks drama yang telah disarankan oleh guru .
Siswa menjawab pertanyaan-pertanyaan pemahaman isi cerita drama yang disampaikan secara lisan oleh Guru.
Guru mengulas lebih mendalam dua unsur intrinsik, yaitu alur dan konflik.

Pertemuan ke-2
Siswa berdiskusi kelompok untuk mengungkap alur dan jenis konflik yang ada dalam drama yang didengarkan.
Guru mengamati kinerja siswa dalam mengikuti diskusi kelompok dan membuat catatan penilaian
Secara bergiliran, setiap kelompok ke depan kelas untuk mempresentasikan hasil diskusinya. Kelompok lain diwajibkan untuk memberikan tanggapan kritis atas isi presentasi.
Guru memberikan ulasan dan komentar terhadap hasil presentasi semua kelompok. Guru juga mengomentari kinerja individu dalam memberikan tanggapan. Ditunjukkan tanggapan yang bagus berikut alasannya.

Pertemua ke-3
Secara bergiliran, setiap kelompok ke depan kelas untuk mempresentasikan hasil diskusinya. Kelompok lain diwajibkan untuk memberikan tanggapan kritis atas isi presentasi.
Guru memberikan ulasan dan komentar terhadap hasil presentasi semua kelompok. Guru juga mengomentari kinerja individu dalam memberikan tanggapan. Ditunjukkan tanggapan yang bagus berikut alasannya.

PENUTUP
(Internalisasi dan refleksi) Siswa diajak merefleksikan nilai-nilai serta kecakapan hidup (live skill) yang bisa dipetik dari pembelajaran.


Indikator
• Menyimpulkan isi teks drama sesuai dengan situasi dan konteks
• Menyampaikan simpulan isi teks drama
• Membahas simpulan isi teks drama yang telah disampaikan

Penilaian
Teknik dan Bentuk


15 % Tes Lisan
15 % Tes Tertulis
25 % Observasi Kinerja/Demontrasi
25 % Tagihan Hasil Karya/Produk: tugas, projek, portofolio
10 % Pengukuran Sikap
10 % Penilaian diri

Instrumen / soal Tugas untuk mendengarkan pembacaan teks drama
Tugas untuk menganalisis dan mengidentifikasi unsur-unsur intrinsik cerita drama
Daftar pertanyaan Kuis Uji Teori untuk mengukur pemahaman siswa atau konsep-konsep yang telah dipelajari


Mengetahui, , 2010
Kepala SMAN Guru Mata Pelajaran

……………………….. Saeful Ma’ruf, S.Pd.

Selasa, 12 Januari 2010

PEMBELAJARAN PUISI DENGAN TEKNIK SAMBUNG DIKSI

BAB I
PENDAHULUAN

1.1Latar belakang masalah

Pembelajaran bahasa Indonesia di SLTP pada dasarnya bertujuan agar siswa dapat menguasai empat keterampilan bahasa, yaitu menyimak, membaca, berbicara dan menulis. Dan pembelajaran empat keterampilan bahasa tertsebut lebih benyak diberikan kepada siswa, dengan kata lain pembelajaran ini lebih menekankan kepada sisi bahasa atau lingusitik tetapi kurang memperhatikan pembelajaran sastra.

Bahkan para guru seringkali melewatkan pembelajaran sastra, dengan alasan kurang menguasai meteri dan sulit dicerna oleh peserta didik. Jika kita cermati meteri pembelajaran sastra pada dasarnya tidak kalah penting dengan meteri kebahasaan lainnya, karena dengan pembelajaran sastra terutama puisi, siswa dapat mengekspresikan dirinya lebih kreatif lagi dan tidak terlepas dari empat keterampilan bahasa yang telah disebutkan di atas. Karena itu penulis memilih judul pembelajaran menulis puisi untuk lebih mengembangkan pembelajaran sastra agar lebih bervariatif dan peserta didik tidak jenuh dengan pembelajaran yang monoton.

Pembelajaran puisi bertalian erat dengan keterapilan berbahasa, misalnya;
menyimak, ketika anak diajak mempelajari puisi terlebih dahulu siswa diajak mengapresiasi puisi dengan cara menyimak pembacaan puisi, kemudian membaca kemudain membaca sebuah karya puisi dan mengamatinya. Selanjutnya siswa diarahkan untuk mengomentari dan mengemukakan isi puisi yang telah dibaca dan yang terakhir menulis puisi karya sendiri (menulis kreatif).

Kerena pentingnya pembelajaran sastra terutama puisi maka dari itu penulis berupaya mengembangkan dan mempermudah pembelajaran puisi agar mudah untuk diaplikasikan dalam proses pembelajaran bahasa Indonesia. Dalam hal ini penulis memilih teknik sambung diksi dan pemilihan metode ini didasarkan pada kelebihan metode yang antara lain sebagai berikut :

a)Lebih mudah dipahami siswa karena metode ini sangat sederhana.
b)Dapat merangsang kemampuan siswa untuk lebih kreatif terutama dalam pemilihan diksiyang kemudian dirangkai menjadi puisi.
c)Merupakan suatu metode yang baru dan bisa diterapkan di kelas atau pun di luar kelas.

1.2 Identifikasi masalah

Dari judul penelitian yang telah dipilih maka penulis mengidentifikasi masalah sebagai berikut:
1)Apakah pemahaman siswa kelas VIII MTS Daruttaqwa silebu Kec. Kragilan sudah cukup baik mngenai karya sastra khususnya puisi.
2)Apakah minat siswa kelas VIII MTS Daruttaqwa silebu Kec. Kragilan dalam
pembelajaran puisi cukup baik.

1.3 Rumusan masalah dan batasan masalah

1.3.1 Rumusan masalah
Memilih masalah penelitian adalah suatu langkah awal dari kegiatan penelitian. Sseorang mengadakan penelitian karena ia ingin mendapatkan jawaban dari masalah yang dihadapinya. Untuk itu terlebih dahulu dipahami secara mendalam berbagaihal yang menyangku masalah tersebut, baik secara teoritis maupun secara praktis agar penelitian yang dilakukan dapat mencapai hasil yang optimal. Maka dari itu penulis merumuskan masalah dalam penelitian ini:

1)Apakah pembelajaran menulis puisi dengan teknik sambung diksi di kelas VIII MTS Daruttaqwa silebu Kec. Kragilan ini dapat memberikan hasil yang baik.
2)Apakah minat siswa kelas VIII MTS Daruttaqwa silebu Kec. Kragilan dalam mengapresiasi pembelajaran dan karya puisi melalui pembelajaran menulis puisi dengan teknik sambung diksi ini dapat meningkat.
3)Apakah kreatifitas dan keaktifan siswa kelas VIII MTS Daruttaqwa silebu Kec. Kragilan dalam pembelajaran menulis puisi dengan teknik sambung diksi ini dapat meningkat.

1.3.2 Batasan masalah
Agar penelitian tidak menyimpang dan pembahasan tidak meluas, maka penulis membatasi masalah sebagai berikut:
1)Meningkatkan minat siswa kelas VIII MTS Daruttaqwa silebu Kec. Kragilandalam mengapresiasi karya sastra.
2)Meningkatkan pemahaman dan kreatifitas siswa kelas VIII MTS Daruttaqwa silebu Kec. Kragilan dalam menulis puisi.

1.4 Tujuan
1.Untuk mengetahui dapat tidaknya pembelajaran menulis puisi dengan teknik sambung diksi di kelas VIII MTS Daruttaqwa silebu Kec. Kragilan ini dapat memberikan hasil yang baik
2.Untuk mengetahui minat dan apresiasi siswa kelas VIII MTS Daruttaqwa silebu Kec. Kragilan terhadap karya puisi dan pembelajaran menulis puisi dengan teknik sambung diksi.
3.Untuk mengetahui tingkat kreatifitas dan keaktifan siswa kelas VIII MTS Daruttaqwa silebu Kec. Kragilan dalam pembelajaran menulis puisi dengan teknik sambung diksi.




BAB II
Kajian teori

Sebelum guru mengajar maka ia akan memikirkan bagaimana pembelajaran itu dilaksanakan. Agar tujuan yang diharapkan dapat dicapai dengan baik. Pemiikiran cara bahkan pengkajian bahan tersebut harus berdasar pada pendekatan tertentu.pemikiran semacam itu dikatakan dengan istilah metode pengajaran. Hal tersebut berdasarkan pada pendapat Hidayat (1995:60) bahwa metode pengajaran adalah rencana penyajian bahan yang menyeluruh dengan urutan yang sistematis berdasarkan aproach tertentu.

2.1 Pengertian pembelajaran
Menurut hamalik (2003:11) pembelajaran berasal dari kata dasar “ajar” mendapat imbuhan dan akhiran merupakan suatu proses interaktif antara si pengajar dan si pembelajar (guru dan murid) dapat mengalami perubahan sikap dan prilaku yang lebih baik.
Dalam KBBI (1994:14) pembelajaran merupakan proses menjadikan orang atau mahluk hidup belajar, sedangkan pemelajaran adalah perbuatan memelajari.
Menurut Degeng (1993:1) adalah upaya untuk membelajarkan siswa.dalam pengertian ini pembelajaran secara implisit terdapat kegiatan memilih, menetapkan, mengembangkan metode untuk mencapai hasil hasil pemelajaran yang diinginkan B.Uno (2008:2).


2..2 Pengertian Sastra dan Puisi

1) Pengertian sastra
Pengertian sastra mengalami perubahan dan penyempitan makna. Pengertian sastra mulanya adalah daya cipta manusia yang diungkapkan melalui bahasa, sehingga pada waktu itu sastra meliputi piagam, buku-buku ilmiah undang undang dan lainnya yang diungkapkan melalui bahasa dan tulisan.
Pengertian sekarang meliputi daya cipta manusia yang bersifat seni yang diungkapkan melalui bahasa. Untuk pembatasan sastra Jackob Sumarjo (1994 : 13) mengungkapkan demikian, Sastra adalah ungkapan pribadi manusia yang berupa pengalaman, pemikiran, perasaan, ide, semangat dan keyakinan dalam suatu bentuk gambaran yang membangkitkan pesona dengan alat bahasa. Dengan demikian sastra adalah suatu kegiatan kreatif, sebuah karya seni Wellek (1993:3)

Dalam ensiklopedi indonesia (1989:3036 – 3037)sastra merupakan bentuk seni yang dilahirkan dalam dan dengan bahasa. Perkataan ini berasal dari sastra yang sebenarnya meliputi segala macam pengetahuan teoritis.

2) Pengertian puisi
Dalam membuat definisi mengenai puisi para ahli mengungkapkan batasan-batasan yang berbeda, hal ini desebabkan sudut pandang mereka dipengaruhi oleh konsep puisi yang berbah ubah dari waktu kewaktu. Namun walaupun demikian tujuan mereka sama dalam pengertian puisi.

Rampan (1983: 58) mengemukakan banyak orang mengemukakan, banyak orang membuat definisi tentang apa sebenarnya puisi, tetapi tidak pernah ada definisi yang benar-benar memuaskan sebab pada akhirnya konsep daripada puisipun berubah-ubah sesuai dengan konsepsi pengarannya.
Dari segi bahasa puisi berasal dari bahasa latin yaitu poicu = poio yang berarti membangaun, menimbulkan menyebabkan, atau menyair. Sebab itu pula puisi dapat diartikan sebagai curahan perasaan dari hati yang dapat menimbulkan keharuan danmembangkitkan semangat atau membangun sikap seseorang dan yang merupakan gubahan ciptaan Rampan (1993:58)

Tetapi Herman J.W (1991:25) mengatakan bahwa puisi adalah bentuk karya sastra yang mengungkapkan pikiran-pikiran penyair secara imajinatif dan disusun dengan mengkonsentrasikan semua kekuatan bahasa dengan pengkonsentrasian struktur fisik dengan struktur batinnya
2.3 Pengertian Apresiasi
Istilah apresiasi berasal dari bahasa latin “Aprecoiatio” yang berarti mengindahkan atau menghargai Aminudin (1991: 34). Lebih lanjut pendapat yang sama, istilah apresiasi mengandung makna :
1)Pengenalan melalui perasaan atau kepekaan batin
2)pemahaman dan penghargaan terhadap nilai-nilai keindahan yang disuguhkan pengarang.
























BAB III

3.1Metode penelitian

Metode penelitian adalah suatu cara melakukan sesuatu yang telah dipikirkan secara matang-matang logis dan disusun secara sistematis untuk mencapai suatu tujuan yang digunakan.
metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif. metode penelitian deskriptif adalah suatu metode yang tertuju pada sautu pemecahan masalah yangada pada masa sekarang. Surakmad (1994 : 139).
menurut Arikunto (1998:1945) istilah metode deskriptif digunakan dalam pengertian luas, yakni tidak hanya melakukan deskripsi murni tetapi juga menjelaskan hubungan, menentukan makna dan menarik kesimpulan. metode ini adalah suatu cara untuk memecahkan suatu masalah yang aktual dengan jalan megumpulkan, menyusun, mengklasifikasikan dan menginterpretasikan data.

3.2 Teknik penelitian

Teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1) Teknik ujicoba
Teknik ini digunakan untuk memperoleh berbagai data tentang pelaksanaan serta proses dan hasil-hasil evaluasi uji coba model pembelajaran menulis puisi dengan teknik sambung diksi.

2) Teknik Tes
Teknik tes adalah teknik yang digunakan untuk menganalisis dengan menggunakanan alat tes. teknik ini berguna untuk mengetes dalam praktek pembelajaran menulis puisi dengan teknik sambung diksi.

3) Teknik dokumentasi
Teknik dokumentasi adalah teknik yang digunakan untuk menganalisis objek yang diamati dalam memperoleh informasi, kita menentukan tiga macam sumber yaitu tulisan, tempat dan orang.

3.3 Tempat dan waktu penelitian
Tempat dan waktu penelitian dilaksanakan di MTS Daruttaqwa silebu Kec. Kragilan tepatnya pada kelas VIII (delapan). Pemilihan tempat penelitian ini selain pertimbangan efisiensi waktu dan selain biaya penelitian karena lokasinya tidak begitu jauh dengan domisili penulis, Pemilihan tempat penelitian ini juga dilakukan karena peneliti sudah mengenal baik objek penelitian yaitu MTS Daruttaqwa silebu Kec. Kragilan, sehingga kondisi ini juga diharapkan mendukung tingkat validitas penelitian. Waktu penelitian dilaksanakan pada semester II Tahun pelajaran 2009/2010 bulan April s/d Juni.

Analisis Kesalahan Ejaan dan Pemakaian Kata Perangkai Dalam Artikel di Kolom Wacana Publik Radar Banten

1.Latar Belakang Masalah

Bahasa merupakan unsur yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Bahasa digunakan untuk mengutarakan dan menerima pikiran serta perasaan manusia. Dengan mempelajari bahasa, kita berharap dapat lebih memahami bagaimana pikiran manusia menghasilkan dan memproses bahasa tersebut (Chomsky dalam Litera FKIP 2008: 43)
Jika dilihat dari fungsinya, bahasa digunakan sebagai alat komunikasi yang menyampaikan pikiran, perasaan, hasrat, dan kehendak pada orang lain. Untuk itu penguasaan bahasa yang benar sesuai dngan kaedah yang ada, merupakan kunci kelancaran dan kesempurnaan proses komunikasi.
Seseorang tidak dapat menerima dan menyampaikan pikiran, gagasan, perasaan, hasrat, dan kehendak secara efektif apabila orang tersebut tidak menguasai bahasa sebagai sarananya, secara benar. Bahkan tingkat kualitas kegiatan intelektual seseorang akan sangat ditentukan oleh tingkat penguasaan bahasa yang dimilikinya. Selain untuk berkomunikasi secara langsung dengan menggunakan bahasa lisan, misalnya pidato atau ceramah, seseorang juga dapat berkomunikasi dengan bahasa tulis.
Dalam komunikasi tulis, kita tidak begitu saja dapat melakukannya, tapi butuh ketrampilan untuk menuangkan pikiran, gagasan, perasaan, dan kehendak ke dalam bentuk tulisan.
Atas dasar itu, dan melihat kenyataan bahwa masih banyak penyimpangan yang terjadi dalam proses berbahasa terutama bahasa tulis. Maka penulis berinisiatif mengambil bahan penelitian yang merupakan bagian dari bahasa tulis yaitu: Analisis Kesalahan Ejaan dan Pemakaian Kata Perangkai Dalam Artikel di Kolom Wacana Publik Radar Banten.





2.Rumusan masalah

Memilih masalah penelitian adalah suatu langkah awal dari kegiatan penelitian. Seseorang mengadakan penelitian karena ia ingin mendapatkan jawaban dari masalah yang dihadapinya. Untuk itu terlebih dahulu dipahami secara mendalam berbagai hal yang menyangkut masalah tersebut, baik secara teoritis maupun secara praktis agar penelitian yang dilakukan dapat mencapai hasil yang optimal. Karena itu penulis merumuskan masalah dalam penelitian sebagai berikut:
a.Apakah terdapat kesalahan pemakaian dan penulisan ejaan atau kata penghubung dalam artikel di kolom Wacana Publik Radar Banten?
b.Kesalahan ejaan apa yang terdapat dalam artikel di kolom Wacana Publik Radar Banten?
c.Kekeliruan kata penghubung apa yang terdapat dalam artikel di kolom Wacana Publik Radar Banten?


3.Metode penelitian

Metode penelitian adalah suatu cara melakukan sesuatu yang telah dipikirkan secara matang-matang, logis, dan disusun secara sistematis untuk mencapai suatu hasil yang optimal.
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif. metode penelitian deskriptif adalah suatu metode yang tertuju pada sautu pemecahan masalah yangada pada masa sekarang (Surakmad 1994 : 139).

4.Teknik Penelitian

Teknik penelitian yang digunakan adalah :
a)Teknik pustaka, teknik ini dilandaskan untuk mempelajari beberapa acuan kepustakaan yang relevan dengan tujuan penelitian.
b)Teknik analisis isi, penggunaan teknik ini berdasar pada teori-teori linguistik yang relevan sehingga diharapkan analisis kesalahan ejaan dan pemakaian kata perangkai dalam artikel dapat diperbaiki.

5.SUMBER DATA
Sumber data dalam penelitian ini adalah artikel dalam koran Radar Banten di kolom Wacana Publik, edisi Selasa 23 s/d Sabtu 27 Juni 2009.

6.TEKNIK ANALISIS DATA
Dalam menganalisis data, penulis menggunakan teknik sebagai berikut:
a)Mendeskripsikan penggunaan ejaan dan pemakaian kata perangkai dalam artikel di kolom Wacana Publik Radar Banten.
b)Menganalisis kesalahan ejaan dan pemakaian kata perangkai dalam artikel di kolom Wacana Publik Radar Banten.

7.HASIL ANALISIS
Setelah diadakan penelitian, maka diperoleh hasil sebagai berikut. Dari delapan artikel yang ada di kolom Wacana Publik Radar Banten dari edisi 23-27 juni 2009, pada umumnya kesalahan kesalahan masih terdapat pada penggunaan tanda baca di, kata perangkai pada dan dari. Untuk lebih jelasnya penulis akan menguraikan hasil analisis sebagai berikut:

Kesalahan Pemakaian Kata Depan atau Awalani di
Sebagai kata depan di ditulis terpisah dengan kata yang mengikutinya. Dalam hal ini di diikuti oleh kata benda atau nama tempat. Juga merupakan morfem terikat secara sintaksisi, artinya suatu morfem atau bentuk baru yang mempunyai arti pasti, apabila dihubungkan dengan morfem lain sehingga membentuk kelompok kata atau kalimat (Kusno B. Santoso 1990:89).
Sebagai awalan di merupakan morfem terikat secara morfologis, artinya suatu morfem atau bentuk baru yang mempunyai arti pasti,apabila telah dihubungkan dengan morfem lain supaya membentuk suatu kata. Sebagai awalan selanjutnya di harus ditulis serangkai/bersambung dengan kata yang mengikutinya dan erfungsisebagai pembentuk kata kerja pasif (Kusno B. Santoso 1990:89).
Dari delapan artikel yang diteliti, ada dua artikel yang terdapat kesalahan pemakaian di, yaitu:
Dalam artikel yang berjudul Otonomi atau Out Money (23.06.2009), terdapat satu kesalahan pemakaian di dalam kalimat:
Desentralisasi termasuk didalamnya pemekaran …. (Paragraf terakhir).
Jika diperhatikan penulisan di dalam penggalan kalimat di atas jelas sekali menunjukan suatu tempat. Untuk dapat membedakan kedua fungsi di sebagai kata depan atau sebagai akhiran, dapat dilihat dari ciri pokok yang dimiliki oleh masing-masing bentuk. Bentuk di sebagai awalan maka di bersamaan dengan kata yang mengikutinya dapat menjawab pertanyaan diapakan? Sedangkan di sebagai kata depan akan dapat menjawab pertanyaan di mana? atau kapan? (Kusno B. Santoso 1990:89). Jadi dalam penggalan kalimat yang disebutkan di atas penulisan di harus dipisah dengan kata yang mengikutinya karena menunjukan tempat.

Dalam artikel yang berjudul Nasionalisme Kita Terus Menyala (23.06.2009), terdapat satu kesalahan pemakaian di dalam kalimat:
Dulu almarhum Presiden Soekarno pernah berpidatio di awal 1960 bahwa…. (Paragraf :9).
Jika diperhatikan penulisan di dalam penggalan kalimat di atas kurang tepat, menurut Kusno B. Santoso (1990: 90), di digunakan untuk menyatakan waktu yang tek tentu misalnya (di saat, di suatu saat, di suatu masa dan sebagainya). Jadi dalam kalimat di atas kata di lebih tepat diganti dengan pada.

Kesalahan pemakaian kata perangkai pada
Kata perangkai adalah sekelompok kata yang berfungsi untuk merangkaikan atau menghubungkan kata-kata atau bagian-bagian kalimat, ataupun kalimat yang satu dengan kalimat yang lain dan sekaligus menentukan jenis hubungannnya Kusno B. Santoso ( 1990: 81).
Dari delapan artikel yang dianalisis, ada tiga artikel yang terdapat kesalahan pemakaian kata perangkai pada, yaitu:
Dalam artikel yang berjudul Nasionalisme Kita Terus Menyala (23.06.2009), terdapat satu kesalahan pemakaian kata perangkai pada dalam kalimat:
……. patriotisme atau cinta pada tanah air ….. (Paragraf : 1)
Jika diperhatikan penulisan kata pada dalam penggalan kalimat di atas, merupakan sebuah kekeliruan yang bersifat redundansi (mubazir), karena jika kata pada dalam kalimat tersebut dihilangkan, makna kalimat tersebut tidak berubah.

Dalam artikel yang berjudul Utang Oke Asal Produktif (24.06.2009), juga terdapat satu kesalahan pemakaian kata perangkai pada dalam kalimat:
……utang Indonesia ada pada jajaran tersebut……. (paragraf 7).
Pemakaian kata pada dalam kalimat di atas, kurang tepat karena dipakai untuk menyatakan keterangan tempat (pengganti di) untuk orang atau binatang. Kata pada dalam kalimat di atas lebih tepat diganti dengan kata depan di.

Dalam artikel yang berjudul Menjaga Stabilitas Rupiah (27.06.2009), terdapat tiga kesalahan pemakaian kata perangkai pada dalam kalimat:
…..nilai tukar dolar AS dipatok pada kisaran Rp 9500….
…..kuartal ketiga 2008 yang tenggelam pada level Rp 12000….
…..bertenggernya rupiah pada level saat ini dapat….
Pemakaian kata pada dalam penggalan-penggalan kalimat di atas kurang tepat karea kata pada dipakai untuk menyatakan keterangan tempat (pengganti di) untuk orang atau binatang. Lebih tepat diganti dengan kata depan di.

Kesalahan Pemakaian Kata Perangkai dari

Dari delapan artikel yang dianalisis, ada dua artikel yang terdapat kesalahan pemakaian kata perangkai dari, yaitu:
Dalam artikel yang berjudul Nasionalisme Kita Terus Menyala (23.06.2009), terdapat satu kesalahan pemakaian kata perangkai dari dalam kalimat:
Itulah sebenarnya yang menjadi tujuan utama dari setiap praksis politik…. (parafraf terakhir).
Jika dicermati pemakaian kata dari dalam penggalan kalimat di atas kurang tepat karena kata dari dalam kalimat di atas berfungsi menyatakan milik. Sebab dalam bahasa Indonesia kata yang menyatakan pemilik dapat berhubungan langsung dengan sesuatu yang dimilikinya. Jadi pemakaian kata dari dalam kalimat di atas tidak perlu dipakai karena bersifat redundansi. cobalah hilangkan kata dari dalam kalimat di atas. Berubahkah artinya?

Dalam artikel yang berjudul Saatnya Berburu Koruptor Daerah (27.06.2009), terdapat satu kesalahan pemakaian kata perangkai dari dalam kalimat:
Penggunaan dana APBD perlu mendapatkan stempel dari para wakil rakyat.
pemakaian kata dari dalam penggalan kalimat di atas kurang tepat karena kata dari dalam kalimat di atas berfungsi menyatakan milik dan bersifat redundansi. Jika dihilangkan pemakaian kata dari dalam kalimat di atas maka tidak akan merubah maknanya.


Simpulan

Dari delapan artikel yang diteliti terdapat dua artikel yang ditemukan kesalahan dalam pemakaian di, yaitu dalam judul: Otonomi atau Out Money dan Nasionalisme Kita Terus Menyala (23.06.2009). terdapat tiga artikel yang ditemukan kesalahan pemakaian kata penghubung pada, yaitu dalam judul: Nasionalisme Kita Terus Menyala(23.06.2009, Utang Oke Asal Produktif (24.06.2009), dan Menjaga Stabilitas Rupiah (27.06.2009). terdapat dua artikel yang ditemukan kesalahan dalam pemakaian kata penghubung dari yaitu dalam judul: Nasionalisme Kita Terus Menyala (23.06.2009) dan Saatnya Berburu Koruptor Daerah (27.06.2009).
Dari hasil analisis terhadap delapan artikel ini dapat ditarik kesimpulan bahwa secara keseluruhan artikel di kolom Wacana Publik Radar Banten cukup baik dalam menyampaikan informasi melalui bahasa tulis dan cukup baik dalam menuliskan ejaan dan kata penghubung. Meskipun di beberapa artikel masih ada kesalahan-kesalahan yang dilakukan.















Pustaka Acuan

Budi Santoso, Kusno. 1990. PROBLEMATIKA BAHASA INDONESIA. Jakarta. Rineka Cipta.
LITERA. 2006. FKIP. UNTIRTA PRESS
Muslihat, Babay. 2004. Skripsi. Pembelajaran puisi dengan menggunakan teknik campuran (ceramah, tanya jawab, dan diskusi) dikelas II SLTP Taktakan Serang Tahun pelajaran 2003/2004. FKIP UNTIRTA.
Atin. 2005. Skripsi. Ujicoba Pembelajaran diponegoro karya Chairil Anwar dan puisi pangeran diponegoro karya Sides Sudiarto dengan menggunakan teori resepsi sastra pada siswa kelas II SMUN Ciruas tahun pelajaran 2002/2003. FKIP UNTIRTA.