ANALISIS REFERENSI (PENGACUAN) DALAM WACANA
CERPEN “ RIPIN”
I.PENDAHULUAN
1. LATAR BELAKANG
Bahasa meupakan alat komunikasi yang digunakan manusia untuk berinteraksi dengan sesamanya. Dengan menguasai bahasa, maka manusia dapat mengetahui dunia dan memperoleh pengetahuan yang belum pernah terpikir dan terbayangkan sebelumnya. Bahasa sebagai alat komunikasi dapat dilakukan secara lisan dan tulis, tetapi pada pelaksanaannya penggunaan bahasa tulis lebih sulit dilakukan karena harus sesuai dengan kaedah yang ada yang akan menentukan dan mendukung kelancaran dan kesempurnaan proses komunikasi. Seseorang tidak akan dapat menyampaikan pesan, kesan, perasaan, gagasan dan informasi dengan efektif apabila syarat dan kaidah bahasa tulis tidak dikuasainya.
Dalam komunikasi tulis tentunya ada rentetan kalimat yang saling berkaitan dan mempunyai keserasian makna yang disebut wacana. Dalam analisis kebahasaan wacana merupakan unsur bahasa yang terlengkap dan terbesar setelah kalimat, karena analisis wacana mengkaji potongan-potongan yang lebih besar daripada kalimat sebagai satu kesatuan kemudian menghubungkan teks dengan situasi atau konteksnya.
Wacana yang memiliki keserasian makna tentunya memlikiki keterkaitan antar kalimat, bukan hanya satu kalimat saja karena harus ada referensi (acuan). Misalnya pada kalimat berikut: “aku mencintai anaknya” elektik nya pada anaknya brlum jelas siapa yang dimaksud. Maksud kalimat itu akan jelas apabila ada kalimat lain sebelum atau sesudah kalimat itu. Untuk mengetahui maksud dan penggunaan referensi maka penulis memilakukan telaah dan penelitian kecil terhadap cerpen RIPIN yang diambil dari kumpulan cerpen Kompas 2005-2006 .
2. KAJIAN TEORI
2. 1 Pengertian Wacana
Dalam tata bahasa baku edisi ketiga (2003:41) wacana adalah rentetan kalimat yang berkaitan sehingga terbentuklah makna yang serasi antara kalimat-kalimat itu. Kridalaksana dalam (Tarigan, 1987 : 25). Wacana adalah satuan bahasa terlengkap; dalam hierarki gramatikal merupakan satuan gramatikal tertinggi atau terbesar. (Syamsudin, 1992 : 5). Wacana adalah rangkaian ujar atau tindak tutur yang mengungkapkan suatu hal (subjek) yang disajikan secara teratur, sistematis, dalam satuan yang koheren, dibentuk oleh unsur segemen maupun non segmen bahasa.
Dari pendapat-pendapat di atas, ada beberapa hal yang menyangkut tentang pengertian wacana. Hal tersebut meliputi : (1) merupakan satuan gramatikal terbesar, (2) disusun secara sistematis, (3) berkaitan erat antara kalimat satu dengan yang lainnya sehingga kemudian membentuk makna yang serasi.
Berdasarkan para ahli tentang wacana dapat disimpulkan bahwa wacana merupakan unsur bahasa yang paling lengkap karena mengaitkan antara teks dengan situasi (konteks). Dlam wacana kalimat yang satu dengan yang lainnya saling berkaitan ditulis secara teratur, sistematis, dalam satuan yang kohesif dan koheren. Wacana dibentuk dari unsur bahasa yang terkecil sampai yang terbesar, yaitu: bunyi, suku kata, morfem, kata, frasa, klausa, dan kalimat, juga berupa situasi, ruangan, waktu pemakaian, tujuan pemahaman bahasa, pemakaian bahasa itu sendiri, intonasi, tekanan, makna dalam bahasa, dan perasaan berbahasa.
2. 2 Pengertian Referensi
Dalam tata bahasa baku edisi ketiga (2003:43) pengacuan atau referensi ialah hubungan antara satuan bahasa dan maujud yang meliputi benda atau hal yang terdapat di dunia yang diacu oleh satuan bahasa itu. Sudaryat (2009: 153) mengatakan bahwa referensi atau pengacuan merupakan hubungan antara kata dan acuannya. Senada dengan pernyataan itu Djajasudarma (1994:51) mengemukakan bahwa secara tradisional, referensi merupakan hubungan antara kata dan benda, tetapi lebih lanjut dikatakan sebagai bahasa dengan dunia.
Referensi dalam analisis wacana dapat berupa endofora, apabila acuannya (satuan lingual yang diacu) terdapat dalam teks wacana tersebut, dan eksofora, apabila acuannya benda atau hal lain di luar wacana. Endofora bersifat tekstual, referensi (acuan) ada di dalam teks, sedangkan eksofora bersifat situasional (acuan atau referensi di luar teks). Endofora terbagi atas anafora dan katafora berdasarkan posisi (distribusi) acuannya (referensinya). Anafora merujuk silang pada unsur yang disebutkan terdahulu; katafora merujuk silang pada unsur yang disebutkan kemudian.Kata-kata yang berfungsi sebagai pengacu dalam wacana disebut deiksis sedangkan unsur-unsur yang diacunya dissebut anteseden.
referensi adalah hubungan bahasa dengan dunia tanpa memperhatikan pemakai bahasa. karena pemakai bahasa (pembicara) adalah penutur ujaran yang paling tahu referensi bahasa yang diujarkanya.
2.3Jenis Referensi
1)Referensi Persona
Referensi persona mencakup ketiga kelas kata ganti diri yaitu kata ganti orang I, kata ganti orang II, dan kata ganti orang III baik tunggal maupun jamak, termasuk singularis dan pluralisnya. Referensi persona direalisasikan melalui pronomina persona (kata ganti orang). Pronomina persona adalah pronomina yang dipakai untuk mengacu pada orang. Pronomina persona dapat mengacu pada diri sendiri (pronomina persona pertama), mengacu pada orang yang diajak bicara (pronomina persona kedua), atau mengacu pada orang yang dibicarakan (pronomina persona ketiga). Di antara pronomina itu, ada yang mengacu pada jumlah satu atau lebih dari satu.
Tabel Pronomina Persona
PERSONA
MAKNA
Tunggal
Jamak
Pertama
Saya, aku, ku-, -ku, daku
Kami, Kita
kedua
Engkau, kamu, Anda, dikau, kau, -mu
Engkau, sekalian
ketiga
Ia, dia, beliau, nya
Mereka
Catatan:
Persona tunggal aku memepunyai parian –ku dan ku-
Persona kedua tunggal engkau mempunyai parian kau- dan kamu mempunyai parian mu-
2)Referensi Demonstratif
Sumarlam (2003:25) membagi pengacuan demonstratif (kata ganti penunjuk) menjadi dua, yaitu pronomina demonstratif waktu (temporal) dan pronomina tempat (lokasional). Pronomina demonstratif waktu ada yang mengacu pada waktu kini (seperti kini dan sekarang), lampau (seperti kemarin dan dulu), akan datang (seperti besok dan yang akan datang), dan waktu netral (seperti pagi dan siang). Sementara itu, pronomina demonstratif tempat ada yang mengacu pada tempat atau lokasi yang dekat dengan pembicara (sini, ini), agak jauh dengan pembicara (situ, itu), jauh dengan pembicara (sana), dan menunjuk tempat secara eksplisit (Surakarta, Yogyakarta). Klasifikasi pronomina demonstratif tersebut dapat diilustrasikan dalam bentuk bagan sebagai berikut.
Bagan Pengacuan pronomina demonstartif
Demonstratif Waktu
Demonstratif Tempat
Kini
kini, sekarang, saat ini,
dekat dengan penutur
sini, ini
Lampau
kemarin, dulu, …yang dulu
agak dekat dengan penutur
situ, itu
Waktu yang akan datang
besok, …depan,…yang akan datang
Tempat jauh dengan penutur
Sana
Netral
pagi, siang, sore, pukul 12
Menunjuk secara eksplisit
Sala, Jogja
(sumber Sumarlam 2003:26)
3) Referensi Komparatif
Pengacuan komparatif (perbandingan) ialah salah satu jenis kohesi gramatikal yang bersifat membandingkan dua hal atau lebih yang mempunyai kemiripan atau kesamaan dari segi bentuk/wujud, sikap, sifat, watak, perilaku, dan sebagainya (Sumarlam 2003:26). Kata-kata yang biasa digunakan untuk membandingkan misalnya seperti, bagai, bagaikan, laksana, sama dengan, tidak berbeda dengan, persis seperti, dan persis sama dengan.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kohesi referensial dalam bahasa indonesia dapat berupa: pengacuan persona berupa kelas pronomina persona pertama, kedua, dan ketiga; pengacuan demonstratif (penunjuk) dengan pronomina penunjuk umum, pronomina penunjuk ihwal dan penunjukan adverbia; sedangkan pengacuan komparatif meliputi tingkat ekuatif, tingkat komparatif, dan tingkat superlatif. Penanda referensial ini akan digunakan sebagai landasan untuk menganalisis jenis dan wujud penada referensial dalam cerpen dalam penelitian ini.
II. PEMBAHASAN
Untuk membuat wacana menarik, koheren dan memiliki keserasian makna antar kalimat maka digunakan pengacuan. Setelah membaca, menelaah dan meneliti cerpen Ripin karya Ugoran Prasad, penulis menemukan banyak referensi atau pengacuan diantaranya adalah sebagai berikut:
a)Pengacuan Persona
Dalam cerpen Ripin banyak terdapat referensi pronomina persona tiga (kata ganti orang ketiga / orang yang dibicarakan) dan tidak ditemukan pronomina persona satu atau pun dua karena penceritaan dalam cerpen ini menggunakan sudut pandang orang ketiga. deiksis -nya hampir terdapat pada setiap paragraf sedangkan dieksis Ia- dan Dia- hanya ada pada beberapa paragraf. Berikut ini adalah kutipan kalimat dari dari beberapa pargraf (ditandai dengan angka dalam tanda kurung ), dari cerpen Ripin dan penjelasannya.
(5) “Semula, Ripin berencana untuk mengikuti kawannya berlari, tetapi pengumuman yang didengarnya dari pengeras suara itu membuatnya berhenti.”
(6) “Mak sedang duduk meniup tungku ketika Ripin menerobos masuk dapur sambil terengah-engah. Tak bisa ditangkapnya apa yang dikatakan mulut kecil anaknya”.
(16) “Mak sudah bosan dengar radio. Kalau sudah begini ripin tidak usah medesak Mak lagi. Keputusannya sudah hanpir bisa dipastikan, Ripin tinggal menunggu Mak menemukan jalan keluar”.
(18) “Bapak sepertinya mabuk. Dari mulutnya keluar bau asam... “.
Pada kutipan (5) (paragraf 5) di atas deiksis –nya mengacu pada anteseden Ripin yang berada sebelum deiksisn -nya. Pada kutipan (6) dan (16) deiksis -nya mengacu pada anteseden Mak. (18) deiksis -nya mengacu pada anteseden Bapak dan keempat kutipan di atas bersifat anaforis karena berposisi sesudah anteseden. Pernyataan penulis diperkuat dengan pendapat Sudaryat (2009: 153) Referensi endoforis yang berposisi sesudah antesedennya disebut referensi anaforis, sedangkan yang berposisi sebelum antesedennya disebut kataforis.
(11) Ripin mengeluarkan senjatanya. Dia tahu, mak senang dengan bapakya Dikin.
(16) “ Baru seminggu ini Bapak rupanya sudah tidak tahan berdiam dirumah berlama-lama. Ia mulai sering keluar malam,”.
(24) “Sebelumnya, Ripin takut kepada Darka, tetapi saat ia menatap tajam-tajam itu...”
(29) “...ditengah-tengah rumahnya, ia mendapati pintu rumahnya terbuka...”
Pada kutipan di atas deiksis Dia dan Ia seluruhnya mengacu pada anteseden Ripin yang berada sebelum katagantiorang ketiga atau deiksis nya di pakai dan bersifat anaforis karena deiksis berposisi sesudah anteseden. Perhatikanlah kutipan berikutnya dibawah ini.
(11) Ia pernah melihat bapaknya Dikin sembunyi-sembunyi keluar dari pintu dapur rumahnya dan semakin bergegas begitu bertatap dengan Ripin.”
(12) Ia masih takut. Nenek dulu pernah pesan agar Ripin tidak membantah Mak..”
(20) “Ia pikir, meneruskan mengaji tentulah percuma. Lebih baik diam. Sial, tiba-tiba Ripin kepingin kencing.”
(41) “ Ia akann menjadi Rhoma Irama, bukan sekadar Ripin Irama.
Kutipan-kutipan di atas deiksis Ia seluruhnya mengacu pada anteseden Ripin. Kutipan di atas berbeda dengan kutipan-sebelumnya yang bersifat anaforis. Kutipan-kutipan di atas bersifa kataforis karena deiksis berada sebelum anteseden.
b)Pengacuan Demonstratif
Tidak banyak ditemukan pengacuan demonstratif dalam cerpen Ripin, karena ugoran prasad lebih menekankan pada jalan cerita dan jarang mendeskripsikan waktu dan tempat peristiwa penceritaa tersebut. Berikut ini adalah kutipan beberapa referensi Demonstratif:
Demonstratif Waktu (Temporal)
(13) “itu Dulu, waktu bapak masih jagoan yang paling hebat.”
Pengacuan di atas termasuk jenis pengacuan endofora yang kataforis sebab antesedenya terdapat di sebelah kanan. Deiksis Dulu merupakan demonstratif waktu lampau, mengacu pada waktu bapak masih jagoan.
Demontstratif Tempat (Lokasional)
(32) “Tong setan sudah berakhir. Ripin ingin bertahan sebenar di sana untuk menyaksikan lebih banyak lagi,...”
Pengacuan di atas termasuk jenis pengacuan endofora yang anaforis sebab antesedenya terdapat di sebelah kiri dan deiksisnya sesudah anteseden. Deiksis sana merupakan demonstratif yang menggambarkan tempat jauh dengan penutur, dan mengacu pada Tong Setan.
c) Pengacuan Komparatif
Pengacuan komparartif ialah salah satu jenis kohesi gramatikal yang bersifat membandingkan dua hal atau lebih yang mempunyai kemiripan segi bentuk/wujud/, sikap, sifat, watak perilaku dan sebagainya. Dalam cerpen ripin hanya sedikit pengacuan kommparatif yang digunakan, berikut ini adalah kutipan dari pengacuan komparatif.
(2) “Laki-laki itu punya jambang dan janggut seperti Rhoma Irama. Rambut keritingnya pun seperti Rhoma Irama.”
(23) “Mak diam. Tubuhnya seperti mematung. Ripin berpikir...”
(31) “Lalu perlahan, seperti sihir, kedua motor itu mulai merambat di dinding tong...”
Satuan lingual seperti pada kutipan (2) mengacu pada pernandingan wujud/bentuk jambang, janggut, dan rambut Rhoma Irama. Pengacuan tersebut bersifat anaforis kaena mengacu pada anteseden sebelumnya yaitu Laki-laki itu.
Satuan lingual seperti pada kutipan (23) mengacu pada pernandingan sifat patung yang diam tak bergerak. Pengacuan tersebut bersifat anaforis kaena mengacu pada anteseden sebelumnya yaitu Mak diam.
Satuan lingual seperti pada kutipan (31) mengacu pada pernandingan sifat sihir yang ajaib dan bisanya dapat melakukan hal yang mustahil seperti merambat/berjalan di tembok. Pengacuan tersebut bersifat kataforis kaena mengacu pada anteseden di sebelah kanan yaitu kedua motor itu.
SIMPULAN
Dalam cerpen Ripin banyak terdapat referensi pronomina persona tiga atau kata ganti orang ketiga -nya, Ia-, dan Dia karena dalam cerpen ini penulis menggunakan sudut pandang orang ketiga dan tidak ditemukan pronomina persona satu atau pun dua. Pengacuan demonstratif dalam cerpen ini pun tidak banyak ditemukan, sepertinya penulis cerpen ini (Ugoran Prasad) lebih menekankan pendalaman peristiwa masa lalu namun tidakbenyak menyebutkan deiksis demonstratif waktu maupun tempat peristiwa penceritaan tersebut, begitu pun dengan referensi komparatif .
Dari hasil penelitian ini penulis dapat merumuskan:
Pada pengacuan persona deiksis -nya hampir ada dalam setiap paragraf kecuali paragraf 1, 2, 3. Sedangkan Deiksis Dia- hanya terdapat pada paragraf ke 11 dan deiksis Ia- terdapat pada paragraf ke 11, 12, 16, 20, 24, 29, 41.
Pada pengacuan demonstratif waktu hanya terdapat pada paragraf 13 termasuk jenis pengacuan endofora yang kataforis. Padapengacuan demonstratif tempat hanyater dapat pada paragraf 32, dan termasuk jenis pengacuan endofora yang anaforis.
Pada pengacuan komparatif terdapat pada paragraf 2, 23, 31 yang merupakan pernandingan wujud/bentuk dan juga sifat.
DAFTAR PUSTAKA
Alwi, Hasan. Dkk. 2003. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka
Sudaryat, Yayat. 2009. Makna Dalam Wacana. Bandung: Yarmawidya
Kridalaksana, Harimurti. 1994. Kelas Kata dalam Bahasa Indonesia. Edisi Kedua. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Sumarlam, dkk. 2003. Teori dan Praktik Analisis Wacana. Surakarta: Pustaka
Cakra.
Syamsuddin, dkk. 1997. Studi Wacana Bahasa Indonesia. Jakarta: Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan.
Tarigan, Henry Guntur. 1987. Pengajaran Wacana. Bandung: Angkasa.
Silakan membaca, berkomentar, dan Bagikan di Twitter atau Facebook Anda. Baca Juga blog terkait, saefulmaruf88.blogspot.com
Catatan Materi Bahasa Indonesia
Senin, 11 Januari 2010
Rabu, 06 Januari 2010
artikel tahun Baru
Artikel
Oleh : Saeful ma’ruf
Mahasiswa UNTIRTA Prodi Diksatrasia Semester V, Aktif di Divisi Bahasa Kubah Budaya.
INTROSPEKSI DAN PENDEWASAAN DIRI DI TAHUN BARU
Perayaan tahun baru sepertinya telah melekat dan mengakar dalam diri setiap anak bangsa, rutinitas perayaan tahun baru telah membudaya dan diserap begitu cepat oleh anak muda indonesia yang memang sejak kecil sudah dicekoki dengan budaya luar melalui tontonan mereka sehari-hari, ditambah lagi dengan anggapan bahwa “ yang tidak merayakan berarti kampungan”, sangat memprihatinkan.
Tidak adakah cara yang lebih bermanfaat dalam merayakan tahun baru selain hura-hura dan arak-arakan memacetkan lalulintas? Menjelang tahun baru seharusnya kita lebih bercermin pada diri sendiri apakah kita sudah lebih baik dari tahun kemarin dan apakah yang akan kita capai di tahun mendatang? Ada banyak tantangan dan pertanyaan yang harus kita jawab di tahun mendatang.
Di tahun yang baru tentu usia kita semakin bertambah dan umur tentu semakin berkurang, introspeksi diri ialah hal yang cukup baik untuk menyongsong masa yang akan datang, bukan hanya sekadar pestapora dengan gemerlap cahaya kembang api. Merayakan tahun baru adalah hak setiap individu dan tak ada larangan tertulis untuk itu, tetapi pernahkah terpikir oleh kita untuk mempersiapkan dan menetapkan target juga strategi pencapaian di tahun yang akan datang, dengan kata lain mempersiapkan visi dan misi di tahun yang baru, juga bertekad untuk lebih mendewasakan diri?
Sepertinya hanya sedikit orang orang yang mempertimbangkan hal ini menjelan tahun baru, apalagi generasi muda bangsa ini yang sebagian besar telah terkontaminasi oleh Hedonisme dan materialistis yang mengukur segala keberhasilan dengan materi dan kemudian merayakannya dengan berpestapora (kesenangan sesaat).
Selain introspeksi, lebih mendewasakan diri juga hal yang perlu kita lakukan seiring pertambahan usia seharusnya kita malu pada diri sendiri jika sama sekali tak ada perubahan dalam diri kita. Pendewasaan diri bukanlah hal yang instan dan dapat dilakukan secara spontan, tetapi perlu pemahaman dan proses penataan kembali paradigma hidup. Perlu dipahami bahwa kedewasaan seseorang tidak dapat diukur dari tingkat usia. Misalnya seseorang yang sudah matang secara usia tetapi masihsuka kebut-kebutan di jalan raya yang padat dan ramai, ini aalah salah satu bentuk ketidak dewasaan karena selain membahayakan diri sendiri juga membahayakan orang lain.
Sebetulnya masih banyak contoh lain dan itu yang perlu kita benahi. Sebetulnya ada tiga hal yang membedakan orang dewasa dan anak-anak yaitu pengetahuan, keterampilan dan sikap. Seseorang tidak dapat dikatakan dewasa hanya karena pengetahuan saja tetapi bagaimana dia menggunakan atau mengaplikasikan pengetahuan yang dimilikinya menjadi sebuah keterampilan dan mampu nenentukan mana hal yang positif untuk diri dan untuk dilakukan.
Ketiga hal di atas harus terangkum menjadi satu dan sikaplah yang dominan menentukan tingkat kedewasaan seseorang. Maka jangan heran jika ada seorang pimpinan/pejabat yang kurang disenangi oleh bawahannya karena kurangnya control sikap yang juga menyangkut emosi, padahal pengetahuan dan keterampilannya dibidang kepemimpinan cukup mumpuni.
Andrias Harefa dalam bukunya mengatakan “bertumbuh dewasa danmandiri berarti semakin mengenal “diri“ semakin jujur dengan diri sendiri semakin otentik dan menjadi semakin unik tak terbandingkan”. Dari pendapat tersebut timbulah sebah pertanyaan apakah bangsa kita terutama generasi mudanya sudah menjadi diri sendiri?
Meniru budaya asing dengan berpestapora dan menanggalkan adat istiadat juga menganggap budaya sendiri kuno bukanlah langkah pencarian jati diri tetapi lebih bersifat pasrahmenerima serbua budaya asing. Selektif dan kritis dalam menerima pengaruh asing yang semakin merangsek masuk adalah sedikit dari banyak cara membentengi kaidah-kaidah dan nilai historis budaya bangsa. Membangun karakter dan penaaan mental pemuda dengan fondasi agama, juga merupakan cara tepat guna mempertahankan kekokohan akhlak.
Di tahun baru yang akan datang marilah kita bercermin, mengintrospeksi diri dan lebih menata sikap guna meningkatkan kedewasaan dan selektiflah dalam menyerap pengaruh asing.
Biodata Penulis
Nama : Saeful ma'ruf
Alamat : Silebu Kragilan Serang
Oleh : Saeful ma’ruf
Mahasiswa UNTIRTA Prodi Diksatrasia Semester V, Aktif di Divisi Bahasa Kubah Budaya.
INTROSPEKSI DAN PENDEWASAAN DIRI DI TAHUN BARU
Perayaan tahun baru sepertinya telah melekat dan mengakar dalam diri setiap anak bangsa, rutinitas perayaan tahun baru telah membudaya dan diserap begitu cepat oleh anak muda indonesia yang memang sejak kecil sudah dicekoki dengan budaya luar melalui tontonan mereka sehari-hari, ditambah lagi dengan anggapan bahwa “ yang tidak merayakan berarti kampungan”, sangat memprihatinkan.
Tidak adakah cara yang lebih bermanfaat dalam merayakan tahun baru selain hura-hura dan arak-arakan memacetkan lalulintas? Menjelang tahun baru seharusnya kita lebih bercermin pada diri sendiri apakah kita sudah lebih baik dari tahun kemarin dan apakah yang akan kita capai di tahun mendatang? Ada banyak tantangan dan pertanyaan yang harus kita jawab di tahun mendatang.
Di tahun yang baru tentu usia kita semakin bertambah dan umur tentu semakin berkurang, introspeksi diri ialah hal yang cukup baik untuk menyongsong masa yang akan datang, bukan hanya sekadar pestapora dengan gemerlap cahaya kembang api. Merayakan tahun baru adalah hak setiap individu dan tak ada larangan tertulis untuk itu, tetapi pernahkah terpikir oleh kita untuk mempersiapkan dan menetapkan target juga strategi pencapaian di tahun yang akan datang, dengan kata lain mempersiapkan visi dan misi di tahun yang baru, juga bertekad untuk lebih mendewasakan diri?
Sepertinya hanya sedikit orang orang yang mempertimbangkan hal ini menjelan tahun baru, apalagi generasi muda bangsa ini yang sebagian besar telah terkontaminasi oleh Hedonisme dan materialistis yang mengukur segala keberhasilan dengan materi dan kemudian merayakannya dengan berpestapora (kesenangan sesaat).
Selain introspeksi, lebih mendewasakan diri juga hal yang perlu kita lakukan seiring pertambahan usia seharusnya kita malu pada diri sendiri jika sama sekali tak ada perubahan dalam diri kita. Pendewasaan diri bukanlah hal yang instan dan dapat dilakukan secara spontan, tetapi perlu pemahaman dan proses penataan kembali paradigma hidup. Perlu dipahami bahwa kedewasaan seseorang tidak dapat diukur dari tingkat usia. Misalnya seseorang yang sudah matang secara usia tetapi masihsuka kebut-kebutan di jalan raya yang padat dan ramai, ini aalah salah satu bentuk ketidak dewasaan karena selain membahayakan diri sendiri juga membahayakan orang lain.
Sebetulnya masih banyak contoh lain dan itu yang perlu kita benahi. Sebetulnya ada tiga hal yang membedakan orang dewasa dan anak-anak yaitu pengetahuan, keterampilan dan sikap. Seseorang tidak dapat dikatakan dewasa hanya karena pengetahuan saja tetapi bagaimana dia menggunakan atau mengaplikasikan pengetahuan yang dimilikinya menjadi sebuah keterampilan dan mampu nenentukan mana hal yang positif untuk diri dan untuk dilakukan.
Ketiga hal di atas harus terangkum menjadi satu dan sikaplah yang dominan menentukan tingkat kedewasaan seseorang. Maka jangan heran jika ada seorang pimpinan/pejabat yang kurang disenangi oleh bawahannya karena kurangnya control sikap yang juga menyangkut emosi, padahal pengetahuan dan keterampilannya dibidang kepemimpinan cukup mumpuni.
Andrias Harefa dalam bukunya mengatakan “bertumbuh dewasa danmandiri berarti semakin mengenal “diri“ semakin jujur dengan diri sendiri semakin otentik dan menjadi semakin unik tak terbandingkan”. Dari pendapat tersebut timbulah sebah pertanyaan apakah bangsa kita terutama generasi mudanya sudah menjadi diri sendiri?
Meniru budaya asing dengan berpestapora dan menanggalkan adat istiadat juga menganggap budaya sendiri kuno bukanlah langkah pencarian jati diri tetapi lebih bersifat pasrahmenerima serbua budaya asing. Selektif dan kritis dalam menerima pengaruh asing yang semakin merangsek masuk adalah sedikit dari banyak cara membentengi kaidah-kaidah dan nilai historis budaya bangsa. Membangun karakter dan penaaan mental pemuda dengan fondasi agama, juga merupakan cara tepat guna mempertahankan kekokohan akhlak.
Di tahun baru yang akan datang marilah kita bercermin, mengintrospeksi diri dan lebih menata sikap guna meningkatkan kedewasaan dan selektiflah dalam menyerap pengaruh asing.
Biodata Penulis
Nama : Saeful ma'ruf
Alamat : Silebu Kragilan Serang
Selasa, 15 Desember 2009
Diari Sepi...
Diari Sepi
Gemuruh ombak memintal memori
membenamkan angan pada diari
tangis malam terjemahkan sepi
mencabik rindu dalam hati
Sajak-sajakmu membanjiri angan
mengebiri asa dan harapan.
wahai pualam surga
detak jantungku ada pada mu.
Serang, 09
Gemuruh ombak memintal memori
membenamkan angan pada diari
tangis malam terjemahkan sepi
mencabik rindu dalam hati
Sajak-sajakmu membanjiri angan
mengebiri asa dan harapan.
wahai pualam surga
detak jantungku ada pada mu.
Serang, 09
Langganan:
Postingan (Atom)